BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Berkurangnya pemahaman tentang dampak positif dan negatif sosialisasi menyebabkan salah pengertian dan salah tangkap dengan apa yang sebenarnya ingin disampaikan dalam proses sosialisasi. Demikian pula pada para agen sosialisasinya, misalnya saja orang tua yang melakukan proses sosialisasi yang salah pada anaknya. Hal ini akan menyebabkan terjadinya perilaku menyimpang bagi seorang individu sebagai aktor dalam proses sosialisasi. Untuk itu perlu dikaji bagaimana dampak posistif dan negatif dari sosialisasi. Dengan demikian akibat buruk dari sosialisasi dapat dimiinimalisir.

  1. Rumusan Masalah
    1. Apa dampak positif dan negatif dari sosialisasi?
    2. Bagaimana cara penyelesaian masalah dampak negatif dari sosialisai?
    3. Tinjauan Pustaka
      1. Pengertian sosialisasi

Sosialisasi dapat diartikan sebagai proses belajar individu untuk mengenal dan menghayati norma-norma serta nilai-nilai sosial sehingga terjadi pembentukan sikap untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan atau perilaku masyarakatnya. Proses pembelajaran berlangsung secara bertahap, perlahan tapi pasti dan berkesinambungan. Pada awalnya proses itu berlangsung dalam lingkungan keluarga, kemudian berlanjut pada lingkungan tetangga, kampung, kota, hingga lingkungan negara dan dunia. Disamping itu individu memiliki enkulturasi (pembudayaan), yaitu individu mempelajari dan menyesuaikan alam pemikiran dan sikapnya dengan adat istiadat, sistem norma, dan perturan yang berlaku dalam kebudayaan masyarakatnya. Dalam kamus besar bahas indonesia, sosialisasi berarti suatu proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat di lingkungannya. Sosialisasi juga dapat didefinisikan sebagai suatu proses sosial yang terjadi bila seorang individu menghayati dan melaksanakan norma-norma kelompok tempat ia hidup sehingga akan merasa menjadi bagian dari kelompoknya. Berdasarkan pengertian diatas, dapat ditarik beberapa kesimpulan berikut:

  1. Sosialisasi ditempuh oleh seorang individu melalui proses belajar untuk memahami, menghayati, menyesuaikan dan melaksanakan suatu tindakan sosial yang sesuai denga pola perilaku masyarakatnya.
  2. Sosialisasi diperoleh seorang individu secara bertahap dan berkesinambungan sejak ia dilahirkan hingga akhir hayatnya.
  3. Sosialisasi erat kaitannya dengan enkulturasi atau proses pembudayaan yaitu proses belajar seorang individu untuk belajar mengenal, mengahayati dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya terhadap sistem adat dan norma serta semua peraturan dan pendirian yang hidup dalam lingkungan kebudayaan masyarakatnya.

Sarjono Soekanto: sosaialisasi adalah suatu proses sosial tempat seorang individu mendapatkan pembentukan sikap untuk berperilaku sesuai dengan perilaku orang-orang di dalam kelompoknya.

  1. Media/agen sosialisasi

Media sosialisasi sangat berperan dalam pembentukan kepribadian individu, media sosialisasi itu meliputi keluarga, kelompok bermain, lingkungan kerja, dan media massa.

  1. Keluarga

Keluarga merupakan media awal dari suatu proses sosialisasi. Proses sosialisasi awal ini dimulai dengan proses belajar menyesuaikan diri dan mengikuti setiap apa yang diajarkan oleh orang-orang sekitar lingkungan keluarganya. Melalui lingungan keluarga inilah anak dapat mengenal dunia sekitarnya dan pola pergaulan sehari-hari.

Dalam keluarga orang tua memberikan perhatian untuk mendidik anak agar memperoleh dasar-dasar pola pergaulan hidup yang benar dan baik melalui penanaman disiplin sehingga membentuk kepribadian yang baik bagi seorang anak. Oleh karena itu orang tua sangat berperan untuk:

1)      Memberikan pengawasan dan pengendalian yang wajar sehingga anak tidak tertekan jiwanya

2)      Mendorong agar anak dapat membedakan antara perilaku benar atau salah, baik dan buruk, pantas atau tidak pantas dan sebagainya.

3)      Memberikan contoh perilaku yang baik dan pantas bagi anak-anaknya.

Dalam media keluarga ada dua pola sosasialisasi yaitu:

1)      Sosialisasi represif, dengan ciri-ciri:

a)      Menghukum perilaku yang keliru

b)      Hukuman dan imbakan material

c)      Kepatuhan anak

d)      Komunikasi sebagai perintah

e)      Komunikasi non verbal

f)       Sosialisasi berpusat pada orang tua

g)      Anak mmperhatikan keinginan orang tua

h)      Keluarga di dominasi orang tua

2)      Sosialisasi partisipasi

a)      Memberikan imbalan bagi perilaku yang baik

b)      Hukuman dan imabalan simbolis

c)      Otonomi anak

d)      Komunikasi sebagai interaksi

e)      Komunikasi verbal

f)       Sosialisasi berpusat pada anak

g)      Orang tua memperhatikan keinginan anak

h)      Keluarga merupakan generaliszed (kerjasama ke arah tujuan)

  1. Kelompok bermain

Dalam sosiologi kelompok bermain disebut juga dengan peer group. Pada usia anak, kelompok bermain mencakup teman-teman, tetangga, keluarga dan kerabat. Pada usia remaja, kelompok sepermainan berkembang menjadi kelompok persahabatan yang lebih luas. Perkembangan itu antara lain disebabkan oleh bertambahnya ruang lingkup  pergaulan remaja baik di sekolah maupun di luar sekolah. Perananan positif kelompok persahabatan bagi perkembangan kepribadian anak antara lain sebagai berikut.

1)      Rasa aman dan rasa dianggap penting dalam kelompok akan sangat berguna bagi perkembangan jiwa anak.

2)      Perkembangan kemandirian remaja tumbuh dengan baik dalam kelompok persahabatan.

3)      Remaja mendapat tempat yang baik bagi penyaluran rasa kecewa, taku khawatir, gembira, dan sebagainya yang mungkin tidak di dapat di rumah.

4)      Melalui interaksi dalam kelompok, remaja dapat mengembangkan berbagai keterampilan sosial yang berguna bagi masyarakat kelak.

5)      Pada umumnya kelompok persahabatan memiliki pola perilaku dan kaidah-kaidah tertentu yang mendorong remaja untuk lebih bersikap dewasa.

Diantara kelompok persahabatan adakalanya terbentuk kelompok remaja yang dikenal dengan sebutan geng. Tidak jarang antara satu geng dengan geng lain terjadi persaingan hingga berlanjut pada perkelahian atau tawuran. Akan tetapi ada juga geng yang mengembangkan dasar-dasar kepribadian yang sifatnya positif bagi anggotanya seperti:

1)      Mengembangkan keterampilan

2)      Menumbuhkan rasa kesetiakawanan sosial

3)      Rela berkorban untuk sesama anggota kelompok sehingga timbul rasa solidaritas

  1. Lingkungan sekolah

Di lingkungan sekolah, seseorang mempelajari hal-hal baru yang belum pernah mereka temukan, baik di lingkungan keluarga maupun kelompok bermain. Pendidikan formal mempersiapkan anak mengusai pernanan-pernanan baru di kemudian hari, manakala tidak lagi tergantung pada orang tuanya. Apabila seorang anak memasuki lingkungan sekolah maka secara resmi ia menjadi anggota kelompok formal yang terikat aturan-aturan resmi dan dihadapkan pada norma-norma yang diikuti secara teratur dengan sangsi tertentu.

Menurut Horton, fungsi nyata dari pendidikan antara lain sebagai berikut:

1)      Sebagai modal penting dalam menentukan mata pencaharian

2)      Dapat mengembangkan potensi demi pemenuhan kebutuhan pribadi dan pengembangan masyarakat.

3)      Melestarikan kebudayaan dengan cara mewariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

4)      Membentuk kepribadian.

  1. Lingkungan kerja

Lingkungan kerja juga memiliki pengaruh yang besar pada pembentuka keoribadian seseorang. Pengaruh dalam lingkungan kerja tersebut pada umumnya mengendap dalam diri seseorang dan sukar sekali untuk diubah, apa lagi yang bersangkutan cukup lam bekerja di lingkungan tersebut.

  1. Media massa

Media massa yang terdiri dari media cetak (surat kabar dan majalah) maupun elektronik (radio, televisi dan internet) merupakan alat komunikasi yang dapat menjangkau masyarakat secara luas.

  1. Bentuk-bentuk sosialisasi

Peter L. Berger dan Luckman ( dalam pengantar edisi kedua, Kamanto Soenarto, 1993) membedakan sosialisasi menjadi dua jenis, yaitu sebagai berikut:

  1. Sosialisasi primer

Sosialisasi primer merupakan sosialsasi pertama yang dialami individu sewaktu kecil. Pada tahap ini anak mulai mengenal keluarganya, dan berlangsung sebelum anak memasuki lingkungan yang kebih luas, seperti lingkungan sekolah.

  1. Sosialisasi sekunder

Sosialisasi sekunder merupakan tahapan lanjuta  setelah sosialisasi primer. Dalam tahap ini dikenal adanaya proses desosialisasi, yaitu proses pencabutan identitas diri yang lama dan dilanjutkan dengan resosialisasi , yaitu pemberian identitas baru yang didapat melalui institusi sosial.

  1. Tahap-tahap sosialisasi

Menurut George Herbet Mead (dalam pengantar sosiologi edisi kedua, Kamanto Spenart, 1993) proses sosialisasi berlangsung melaului beberapa tahapan berikut.

  1. Masa kanak-kanak

George Herbert Mead menyebutkan pada masa ini adalah masa meniru yang dikenal dengan istilah prepatory stage. Orang-orang disekitar lingkungan keluarga si anak juga mengajari tentang perbuatan atau perilaku yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Bila ia melakukan perbuatan benar maka akan dipuji dan disukai. Akan tetapi jika berbuat salah ia akan ditegur dan akhirnya si anak akan menyadari perbuatan yang boleh dilakukan dan yang tidak.

Setelah anak mengenal lingkungan, ia akan mengenal teknik bermain peran misalnya bermain perang-perangan, yang disebut oleh Mead sebagai play stage.

  1. Masa remaja

Tahap ini merupakan tahap lanjuatan dari teknik bermain peran pada masa anak-anak. Seorang remaja tidak hanya meniru seseorang, tetapi sudah mengidentikan dirinya, seolah-olah ia sudah menyamakan dengan tokoh idolanya. Dalam masa puber ini seorang remaja sering kali mengalami situasi krisis dengan gejala-gejala sebagai berikut:

a)      Bertemperamen keras dan agresif, atau sebaliknya murung dan suka menyendiri.

b)      Kepribadiannya labil karena masih mencari identitas diri.

c)      Mudah tersinggung dan sukar mengendalikan emosi

d)      Mudah terpengaruh oleh hal-hal tertentu, baik yang bersifat positif maupun negatif.

e)      Memiliki rasa ingin tahu dan mencoba hal-hal baru yang sebelumnya belum pernah ia alami.

Dampak yang tidak diinginkan dari situasi krisis ini adalah munculnya perilaku menyimpang di kalangan remaja. Gejalanya muncul dari berbagai bentuk masalah sosial, seperti dekadensi (kemerosotan) moral, pergaulan sex bebas, kriminalitas, mabuk-mabukan, penyalahgunaan narkoba dan tawuran antar pelajar.

  1. Masa dewasa

Sosialisasi pada tahap ini merupakan titik kulminasi yang paling optimal bagi seorang individu. Proses belajar tidak semata-mata melaui pola peniru, tetapi lebih kepada menyesuaikan diri yang disebut sebagai generalize other. Pada tahap ini, seorang individu dewasa sudah menyelaraskan dan menyesuaikan dirinya dengan pola budaya masyarakat tempat ia hidup. Selain itu individu juga memperoleh status dan peran yang mantap sehingga ia menjadi anggota penuh dari masyarakatnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Dampak sosialisasi
    1. Sosialisai keluarga
      1. Dampak positif

Menjadi agen sosialisai paling berpengaruh dalam menentukan kepribadian seorang individu.

  1. Dampak negatif

Sosialisasi keluarga akan membawa pengaruh terburuk ketika dalam kekuarga tersebut terjadi konflik. Sehingga menimbulkan trauma dan depresi pada anak, yang bekelanjutan dengan dengan perilaku menyimpang dari anak broken home tersebut.

  1. Sosialisai kelompok bermain
    1. Dampak positif

1)      Adanya rasa aman dan dianggap penting

2)      Tumbuhnya rasa kemandirian dalam diri anak

3)      Anak mendapat tempat penyaluran berbagai perasaannya, seperti rasa senang dan sedih.

4)      Dapat mengembangkan berbagai keterampilan sosial yang dimiliki.

5)      Memiliki banyak teman dan mendapat banyak pengetahuan.

6)      Dapat terhindar dari lingkungan pergaulan yang negatif

7)      Ilmunya bermanfaat dan memiliki masa depan yang cerah

8)      Mampu bersosialisasi dengan baik

9)      Belajar untuk membentuk organisasi yang baik

10)  Terbentuknya sifat disiplin dalam penggunaan waktu

  1. Dampak negatif

1)      Penyalahgunaan narkoba

2)      Pelacuran

3)      Sosialisasi tidak sempurna

Apabila seseorang dalam kehidupannya mengalami sosialisasi yang tidak sempurna, maka akan muncul penyimpangan pada perilakunya. Contohnya: seseorang menjadi pencuri karena terbentuk oleh lingkungannya yang banyak melakukan tindak ketidakjujuran, pelanggaran, pencurian dan sebagainya.

4)      Kriminalitas

5)      Gaya hidup

Penyimpangan dalam bentuk gaya hidup yang lain dari perilaku umum atau biasanya. Penyimpangan ini antara lain : – Sikap arogansi yaitu kesombongan terhadap sesuatu yang dimilikinya seperti kepandaian,kekuasaan, kekayaan, dan sebagainya. – Sikap eksentrik yaitu perbuatan yang menyimpang dari biasanya, sehingga dianggap aneh,misalnya laki-laki beranting di telinga, rambut gondrong, dan lain-lain.

6)      Mengkonsumsi rokok di bawah umur

7)      Kenakalan remaja Karena keinginan membuktikan keberanian dalam melakukan hal-hal yang dianggap bergengsi, sekelompok orang melakukan tindakan-tindakan menyerempet bahaya, misalnya kebut-kebutan, membentuk geng-geng yang membuat onar, dan lain-lain.

Selain itu, perkelahian antar pelajar termasuk jenis kenakalan remaja yang pada umumnya terjadi di kota-kota besar sebagai akibat kompleknya kehidupan disana. Demikian juga tawuran yang terjadi antar kelompok/etnis/warga yang akhir-akhir ini sering muncul. Tujuan perkelahian bukan untuk mencapai nilai yang positif, melainkan sekedar untuk balas dendam atau pamerkekuatan/unjuk kemampuan.

 

  1. Sosialisai media masa
    1. Dampak positif

Memberi informasi secara luas. Contoh : Masyarakat dapat memperoleh informasi secara luas sehingga pesan informasi yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat dari berbagai sumber-terutama dari media media massa, apakah dari siaran televisi dan radio (media elektronik), surat kabar dan majalah (media cetak), komputer pribadi, atau bahkan dari internet. Televisi pun mempunyai pengaruh positif seperti merangsang interaksi, merangsang eksperimen dan pertumbuhan mental sosial anak, serta memperluascakrawalapengetahuan. Di banyak negara termasuk Indonesia, televisi juga dimanfaatkan

  1. Dampak negatif

1)      Penghilangan privasi

Contoh: Pemberitaan sebuah kasus perkosaan seorang gadis di kebun tebu oleh media massa di Jawa Timur pada awal Desember 2007. Sebuah media cetak memuat foto lokasi perkosaan dilengkapi inset foto wajah si korban. Media itu juga menyebutkan alamat lengkap korban, nama lengkap korban, dan nama orangtuanya. Ironisnya, sampai sekarang pelakunya belum ditangkap dan media tidak mempersoalkan hal ini.

2)      Meningkatnya tindak kekerasan

Contoh: Dalam film, perempuan selalu digambarkan sebagi korban, diperkosa, disakiti. Sosialisasi kekerasan ini akan menjadi lingkaran setan bila film itu sukses dalam pemasaran, karena akan memberi inspirasi kepada produser lain untuk memproduksi film yang serupa atau bahkan lebih keras. Film terakhir yang diputar di India adalah tentang mafia yang diberi nilai humanis untuk kejahatan bawah tanah yang dilakukannya. Dengan demikian, perempuan mendapatkan haknya dengan membalas dendam, yang artinya melakukan kekerasan. Dalam sebuah film yang lain, perempuan digambarkan mencari keadilan dengan membunuh memakai sabit. Media massa lebih banyak memamerkan kekerasan. Akibatnya, terjadi peningkatan jumlah dan kecepatan kekerasan. Dalam film cerita mula-mula orang yang berkelahi hanya saling pukul dengan tinjunya, tetap kemudian mulai memakai senjata, granat dan alat pembunuh lain. Adegan perkelahian lalu menjadi hiburan. Kekerasan juga meningkat karena masyarakat menjadi seperti kecanduan terhadap kekerasan, sehingga terbentuklah spiral kekerasan dalam media. Penayangan acara SmackDown di televisi diyakini telah menyebabkan penyimpangan perilaku anak-anak dalam beberapa kasus.

3)      Mengubah gaya hidup masyarakat

Contoh: Iklan-iklan yang ditayangkan melalui media massa mempunyai potensi untuk mengubah pola konsumsi atau bahkan gaya hidup masyarakat. Media massa pun sering digunakan untuk mempengaruhi dan bahkan membentuk pendapat umum. Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya di depan layar televisi dibandingkan waktu yang digunakan untuk belajar.

4)      Perubahan Moralisasi dan Peningkatan Pelanggaran Susila Dalam Masyarakat.

Contoh: Penayangan film-film keras dan brutal melalui televisi dapat menimbulkan perilaku yang keras magi masyarakat.

  1. Sosialisai lingkungan kerja
    1. Dampak positif

Pengaruh sosialisasi sangat kuat sehingga sulit untuk diubah dan telah mencapai tahap penyesuaian dengan pola budaya lingkungan pekerjaan ataupun pola budaya masyarakat di sekitarnya

  1. Dampak negatif

Menimbulkan kelas sosial karena jenis pekerjaan yang dilakukan.

 

  1. Penyelesaian masalah dampak negatif sosialisasi
    1. Peningkatan peran orang tua
      1. Memberi kebebasan bersyarat dimana anak dibiarkan untuk tetap bergaul dengan teman-temannya tetapi tetap diawasi.
      2. Memberikan contoh dampak negatif orang yang sudah terjerumus dalam pergaulan yang negatif.
      3. Berusaha untuk menjadi teman curhat anak dan memberikan solusi/saran yang intinya mendukung anak, agar mereka tidak merasa kesepian dan melampiaskannya pada pergaulan
  2. Seorang individu harus lebih selektif dengan mempertimbangkan pengaruh baik dan buruk dari suatu proses sosialisasi.
  3. Individu harus memiliki pegangan hidup yang kuat seperti agama dan norma-norma sosial yang berlaku dalam lingkungan masyarakatnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan:

Sosialisasi memiliki pernanan yang sangat penting bagi kehidupan seorang manusia. Proses sosialisasi ini berlangsung sejak ia dilahirkan sampai akhir hayatnya. Dalam proses sosialisasi terdapat berbagai tahapan dimana disetiap tahapan memiliki dampak positif dan juga memiliki dampak negatif. Dengan pemahaman tentang sosialisasi, maka akibat buruk yang ditimbulkan dari proses sosialisasi dapat diatasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Tim Sosiologi.2006.Sosiologi 1.Jakarta:Yudistira

http://muhammadrisa.blogspot.com/2011/10/kasus-dampak-positif-dan-negatif.html

http://v1r4-m3dia.blogspot.com/2011/06/agen-sosialisasi-kelompok-bermain.html